Susah ambil cuti, tapi ingin liburan di tempat-tempat unik di luar kota, adalah permasalahan klasik bagi para pekerja khususnya di Jakarta. Memanfaatkan libur akhir pekan satu-satunya cara, namun agar liburan ini efektif, efisien dan tetap menyenangkan serta berkesan tanpa harus mengambil jatah cuti kantor, kami memiliki trik tersendiri. Kelompok kami menyebutnya Jakarta Weekenders, ingin liburan tetapi terbatasi pada libur akhir pekan. Tujuan kami yang waktu itu berjumlah sembilan orang adalah Ujung Kulon dan Pulau Peucang, Banten.
Jumat malam kami berkumpul di meeting point yang telah ditentukan. Berhubung kebanyakan dari kami adalah pekerja kantoran, maka kami berkumpul setelah jam kerja. Sebelum berangkat kami membeli berbagai keperluan terutama untuk konsumsi di Ujung Kulon nanti. Ini disebabkan tempat menginap kami di Pulau Peucang nanti tidak ada warung atau restoran (bahkan signal telepon selular pun tidak ada) maka persiapan ini menjadi hal yang sangat penting. Setelah berbelanja, kami pun berangkat dengan menggunakan mobil travel plus sopir sewaan.
Malam Minggu yang Hening
Perjalanan Jakarta-Sumur (salah satu kampung terdekat dengan Ujung Kulon) ditempuh dalam kurun waktu 6 jam. Subuh kami tiba di sana, menyewa “rumah singgah” karena kami hanya beristirahat sebentar serta membersihkan diri. Selesai sarapan, Sabtu pagi kami berlayar menuju Pulau Peucang yang memakan waktu 3 jam dengan kapal nelayan. Bosan menunggu 3 jam kami singgah di Pulau Handaleum, sekitar satu jam dari Kampung Sumur. Di Pulau Handaleum kami melakukan pengamatan satwa seperti banteng, babi hutan, rusa dan berbagai macam jenis burung. Sayang kami tidak sempat ke Cigenter, Cihandeuleum dikarenakan cuaca agak mendung. Padahal di Cigenter kita bisa menyelusuri sungai di ekosistem hutan mangrove, dengan ditemani polisi hutan yang bisa disewa untuk jadi pemandu.
Perjalanan kami lanjutkan, langsung ke penginapan kami di Pulau Peucang. Sepanjang dua jam perjalanan kami menikmati pemandangan alam, di sebelah kiri terbentang daratan paling barat Pulau Jawa dan sebelah sebelah kanan lautan lepas. Sesampainya di Pulau Peucang kenikmatan memandang alam bebas masih terus dirasakan, jauh dari kebisingan, polusi, dan aroma hutan yang kental seolah menyegarkan kepala yang telah penat dari rutinitas keseharian. Pasir putih, pepohonan rindang, serta hamparan laut tanpa ombak di tepi dermaga menjadi magnet tersendiri, karena Pulau Peucang berada tersembunyi diantara pulau Jawa dan Sumatera. Penginapan di sana pun masih sangat sederhana. Walaupun sederhana, kami sangat kegirangan karena di depan penginapan banyak rusa, babi dan monyet yang berkeliaran dengan bebas. Tenang saja mereka jinak, walaupun agak nakal karena suka mencuri makanan yang kita bawa. Oleh karenanya penginapan harus terus kami kunci agar mereka tidak masuk dan memakan ransom perbekalan kita.
Di Pulau Peucang hari sudah gelap, kami bersih-bersih, makan malam dan karena tidak ingin melewatkan waktu liburan dengan sia-sia, tanpa beristirahat kami langsung pergi memancing ikan dengan kapal nelayan disekitar pulau. Berlayar di tengah laut yang tenang sekitar pulau, menyatu dengan gelap malam, air laut yang berkilau cantik akibat pantulan cahaya rembulan dan pemandangan langit yang dihiasi bintang sambil memancing ikan menjadikan pengalaman malam di Pulau Peucang semakin menyenangkan. Sungguh malam minggu yang jauh dari hingar bingar hiburan perkotaan. Hening dan sangat menenangkan. Setelah hampir pukul 11 malam kami pun kembali ke penginapan dan beristirahat.
Jelajah Hutan “Berburu” Badak
Minggu pagi, jadwal perjalanan kami masih padat. Padahal sore hari kami harus angkat kaki dari Pulau Peucang menuju Jakarta dan kembali ke rutinitas. Kami bangun pagi-pagi sekali karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang terus berjalan. Setelah menikmati sunrise dari dermaga Pulau Peucang, kami sarapan lalu bergegas menuju Pantai Cibom yang merupakan salah satu pintu masuk Taman Nasional Ujung Kulon. Sambil berdoa ditengah perjalanan bertemu Badak Jawa yang terkenal dan sudah langka keberadaannya, kami menyusuri hutan yang agak becek karena hujan malam sebelumnya.
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.
Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Ujung Kulon mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820. Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata) dan berbagai macam jenis anggrek. Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang.
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan). Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain. Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan aset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.
Tracking dari pantai Cibom yang berlangsung kurang lebih satu jam ternyata cukup menguras keringat sampai pada akhirnya kami tiba di Tanjung Layar. Tanjung Layar adalah titik paling ujung di pulau Jawa bagian barat. Tanjung Layar ditandai dengan sebuah mercusuar yang kebetulan waktu itu sedang dibangun. Pemandangan di Tanjung Layar berupa deretan tebing-tebing tinggi yang mengelilingi kita, memandang ke depan terlihat hijaunya hutan dan padang rerumputan, birunya air laut yang berombak menghantam tebing-tebing hitam, dan pada saat kita mendangak langit dengan gumpalan awan cerah bersatu membentuk sebuah harmoni alam yang sungguh mempesona. Kami tidak berhenti berdecak kagum, mensyukuri kenikmatan yang telah diberikan Allah SWT pada kami karena diberi kesempatan mengaggumi lukisan alam ini.
Setelah beberapa saat di Tanjung Layar, kami pun kembali menelusuri hutan menuju pantai Cibom. Sayang sekali, kami tidak beruntung menemui tuan rumah hutan ini, si Badak Jawa yang enggan menemui tamu-tamu dari Ibu Kota. Matahari sudah berada di atas kepala, karena begitu lama perjalanan kita menelusuri hutan, kami memutuskan untuk tidak ke Karang Copong di bagian belakang Pulau Peucang. Sayang sekali, padahal di Karang Copong terdapat pemandangan unik berupa karang yang pada bagian bawahnya bolong. Karang Copong bagus dikunjungi saat senja, karena dia berada di bagian barat Pulau Peucang dan tempatnya cocok untuk berfoto-foto.
Perjalanan kami di Ujung Kulon dan Pulau Peucang pun berakhir. Kami kembali ke Kampung Sumur dengan kapal nelayan, dan tiba di sana ba’da Ashar. Kami beristirahat di “rumah singgah” yang disewa pada sabtu pagi sebelumnya, makan siang serta mandi. Sekitar pukul 5 sore kami beranjak menuju Jakarta dengan waktu tempuh 6-7 jam. Tentu saja dengan perasaan enggan meninggalkan surga kecil di ujung barat Pulau Jawa ini. Masih penasaran, adalah ungkapan yang tepat karena begitu banyaknya spot yang layak untuk di kunjungi di Ujung Kulon. Sebut saja, Tamanjaya dan Cibiuk, Pantai Kalejetan, Karang Ranjang, Cibandawoh untuk menikmati fenomena gelombang laut selatan dan pantai berpasir tebal, pengamatan tumbuhan dan satwa. Karang Copong, Citerjun, Cidaon, Ciujungkulon, Cibunar, dan Ciramea untuk menjelajahi hutan, menyelusuri sungai, padang pengembalaan satwa, air terjun dan tempat peneluran penyu. Dan terakhir Pulau Panaitan, dan Gunung Raksa untuk menyelam, berselancar, dan wisata budaya serta sejarah.
Memang diperlukan banyak waktu jika kita ingin menjelajah semua tempat. Namun bagi saya liburan ala Jakarta Weekenders ini sudah lumayan daripada tidak sama sekali. []